ESTETIKA DALAM PEMIKIRAN IMMANUEL KANT

  • Robertus Moses
Keywords: Aesthetics, rationality, sensual experience, ethics, morals

Abstract

Speaking of aesthetics means we are talking about beauty and art. Often aesthetics is understood as a science that studies art as art. This understanding may also be the cause of aesthetic science is not so much interest to learn. As one branch of metaphysics, aesthetics actually offer an extraordinarily rich paradigm of the pilot process of human rationality and human experience. Kant is a very serious figure working on the theme of aesthetics. In the hands of Kant aesthetics side as an independent science. In addition, aesthetics is not only aimed at learning art as an art, but also associated with the ethics and morals of everyday human life.

 

Berbicara tentang estetika berarti bahwa kita sedang berbicara tentang keindahan dan seni. Seringkali estetika dipandang sebagai ilmu yang mempelajari seni sebagai seni. Hal ini mungkin saja disebabkan karena estetika merupakan ilmu yang tidak terlalu menarik untuk dipelajari. Sebagai salah satu cabang dari metafisika, estetika sebenarnya menawarkan sebuah paradigma berpikir yang sangat kaya tentang rasionalitas dan pengalaman manusia. Immanuel Kant termasuk salah satu filosof yang secara mendalam mengelaborasi tema-tema tentang estetika. Kant meletakkan estetika sebagai salah satu ilmu yang independent. Sebagai tambahan, estetika tidak hanya bertujuan untuk mempelajari seni sebagai seni, tetapi juga berhubungan dengan etika dan moralitas keseharian manusia. Kata-kata

References

Dharsono, Estetika, Rekayasa Sains: Bandung, 2007.
Djelantik, A. A. M., Estetika: Sebuah Pengantar, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 1999.
Gaut, Beris and Dominic McIver Lopes (eds.), The Routledge Companion to Aesthetics, Routledge: London and New York, 2005.
L. Tjahjadi, Simon Petrus, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Sutrisno, Mudji, Oase Estetika, Yogyakarta: Kanisius, 2006.
Published
2019-12-09
Section
Articles