Studia Philosophica et Theologica http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet filsafat,teologi en-US stftws@gmail.com (FX. Eko Armada Riyanto) imildanonic@gmail.com (Imilda) Sat, 23 Apr 2022 11:40:08 +0700 OJS 3.1.0.1 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 FABC (Federation of Asian Bishops’ Conferences): Menghargai dan Menghormati Kelayakan Kemanusiaan Asia – Indonesia http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/429 <p>One of the central themes discussed both internationally and nationally is about humanity which is identified with human rights. Religiosity is no less talked about it, including the Church of Asia through the Asian Bishops' Conference which in 2020 celebrated its presence for fifty years. Two declarations from the United Nations and the ASEAN declaration provide directions for upholding humanity and the Asian Bishops Conference document provides the basis for humanity to be more honored and respected. To arrive at the aim of discussing the contribution of the Asian Bishops' Conference to respect and honor humanity, the discussion will begin with an overview of humanity from religious and philosophical dimensions. The two United Nations declarations and the ASEAN declaration provide directions for humanity that serve as guidelines for respecting it. The document of the Asian Bishops' Conference, while respecting the declarations issued by various agencies, illuminates the implications for respecting and respecting humanity. This study uses many sources of documents and humanitarian movements in Asia and Indonesia as well and this paper concludes with a conclusion that gives the reason for Asia being the highest violator of humanity in the world.</p> Edison R.L. Tinambunan, Ignasius Budiono ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/429 Sat, 23 Apr 2022 10:54:42 +0700 Keberpihakan Terhadap Orang Miskin Sebagai Tindakan Kenosis http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/418 <p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>This paper aims to show that preferential option for the poor is an act of kenosis. Kenosis is often understood as an act of self-emptying. However, in the contemporary context a question arises regarding the absence of human agency and human freedom in the face of the act of self-emptying. Marxism, for example, criticizes Christian morality based on this kind of kenosis as an opium for the poor. On the other hand, liberation theology sometimes places too much emphasis on agency and freedom, so that it is accused of being a Marxist. Pope Francis said that preferential option for the poor is more of a theological category rather than a sociological, philosophical or political one. Through Hans Urs von Balthasar's kenosis theology, the vision of preferential option for the poor has a new meaning. This means that, one must not fall to one of the extremes, either as a passive act or an overly aggressive action. Freedom and agency are understood in a new way in terms of Divine love as seen in the Trinitarian love relationship. The struggle for justice and the suffering of the poor empowers the poor as concrete historical subjects. They are not passive objects deceived by self-emptying.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak:</em></strong><em> Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa keberpihakan terhadap orang miskin merupakan sebuah tindakan kenosis. Kenosis sering dipahami sebagai tindakan pengosongan diri. Namun, dalam konteks kontemporer muncul pertanyaan mengenai hilangnya agensi dan kebebasan manusia di hadapan tindakan pengosongan diri. Marxisme misalnya mengkritik moralitas Kristiani yang didasarkan pada kenosis ini sebagai candu bagi orang miskin. Di sisi lain teologi pembebasan kadangkala terlalu menekankan agensi dan kebebasan, sehingga dituduh sebagai Marxis. Paus Fransiskus mengatakan bahwa keberpihakan terhadap orang miskin lebih merupakan kategori teologis daripada sosiologis, filosofis, maupun politis. Melalui teologi kenosis Hans Urs von Balthasar, visi keberpihakan terhadap orang miskin mendapatkan makna baru. Artinya, tidak jatuh pada salah satu ekstrem, baik sebagai tindakan pasif maupun tindakan yang terlalu agresif. Kebebasan dan agensi dipahami secara baru berdasarkan ukuran cinta Ilahi sebagaimana nampak dalam relasi cinta Trinitaris. Perjuangan terhadap keadilan dan penderitaan orang miskin memberdayakan orang miskin sebagai subyek sejarah yang konkrit. Mereka bukan objek pasif yang diperdaya oleh pengososan diri. </em></p> <p>&nbsp;</p> Agustinus Daryanto ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/418 Sat, 23 Apr 2022 11:52:49 +0700 Kepedulian Dalam Pendidikan Untuk Mencapai Kesetaraan Perempuan http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/399 <p>Etika kepedulian berhubungan dengan tindakan moral kepada orang lain. Berbicara tentang kesetaraan mempunyai hubungan yang erat dengan para perempuan. Sampai saat ini mereka masih memperjuangkan kesetaraan dalam hidup. Perempuan masih masih sering dianggap sebagai “ahli” dalam ranah domestik. Hal ini menjadikan kepedulian diakui sebagai bagian dalam hidup perempuan. Apakah benar demikian? Melalui pemikiran para tokoh perempuan ditemukan bahwa ternyata pembagian wilayah kepedulian menjadi milik perempuan adalah karena konstruksi budaya semata. Saat ini mulai diperjuangkan suatu perubahan paradigma untuk memberikan kesempatan bagi perempuan dan laki-laki untuk bekerja sama, termasuk dalam wilayah kepedulian. Sarana yang dipakai adalah pendidikan. Pendidikan membuka banyak kesempatan dan kebebasan bagi setiap orang, termasuk perempuan, untuk mengubah hidupnya. Metode dalam artikel ini adalah analisis teks buku-buku tentang etika kepedulian yang ditulis oleh para pemikir perempuan.</p> Cicilia Damayanti ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/399 Sat, 23 Apr 2022 12:01:33 +0700 Menggagas Fusi Horison Dalam Hermeneutika Hans Georg Gadamer Sebagai Model Saling Memahami Bagi Dialog Antarbudaya Dengan Relevansi Pada Pancasila Sebagai Landasan Dialogis Filosofis http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/431 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Fusion of horizons is the encounter between horizon of the past and of the present in the projection to the future. It takes place in all kind of understanding which is influenced by historically effected consciousness. In the realm of individual activity, fusion of horizons is characterized by formative and existential aspect as continual learning on how to be rooted in one’s own history and culture. Formatively, fusion of horizons leads to build one’s own character to be man of dialogue which is capable of adapting himself with his cultural environment. In the realm of social life, fusion of horizons deals with dialogue in the atmosphere of each other understanding culturally. Practically, dialogue is the formative praxis which enables those who involve in it to understand each other the relationship among themselves and their culture. The concept of the fusion of horizons has the role of bridging different views through hermeneutical and dialogical approach which is based on the process of pursuing meaning and the transformation of prejudices. As the result, the horizons of those who involve in a dialogue will be transformed richly and largely.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Fusi horison adalah perjumpaan antara horison masa lampau dan horison masa kini yang terjadi dalam seluruh aktivitas memahami yang dipengaruhi oleh sejarah pengaruh atas dasar dampak-dampak historis dari masa lalu dan proyeksi ke arah masa depan. Dalam ranah individual, fusi horison bersifat formatif dan eksistensial sebagai sarana pembelajaran secara terus-menerus untuk berakar pada sejarah dan jati diri budaya sendiri. Proyeksinya terarah kepada pembentukan karakter diri sebagai sosok manusia yang berdialog dan mampu beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Dalam ranah sosial, fusi horison mewujud dalam aktivitas saling memahami dalam dialog. Praksis berdialog adalah bagian dari formasi manusia untuk mengenal dengan baik hubungan-hubungan antara dirinya, sesamanya, dan kebudayaannya. Konsep fusi horison menjembatani horison-horison yang berbeda melalui pendekatan dialogis-hermeneutik atas dasar proses pencarian makna-makna dan transformasi prasangka-prasangka. Hasil dari proses fusi horison adalah transformasi horison ke dalam jangkauan pandangan yang lebih luas.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Budaya, Dampak Historis, Dialog, Fusi Horison, Prasangka, Saling Memahami.</p> Emanuel Prasetyono ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/431 Sat, 23 Apr 2022 12:06:01 +0700 Epistemologi Dalam Pemikiran Alfred North Whitehead http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/409 <p>Alfred North Whitehead adalah pemikir besar Inggris yang telah membidani dan mengembangkan filsafat proses yang disebut filsafat organisme. Dengan komitmen dan ketekunan yang penuh ketelitian, Whitehead menempuh proses demi proses ke arah satu kesatuan konjungtif, menyangkutkan ilmu pada pengetahuan (episteme to logos). Artikel ini meneliti bagaimana gagasan epistemologi Alfred North Whitehead dengan menggunakan penelitian literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa pemikirannya menjadi gagasan-gagasan dalam mengintegrasikan dan mengembangkan perkembangan keilmuan di bidang yang lain termasuk teologi.</p> Bobby Kurnia Putrawan ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/409 Sat, 23 Apr 2022 00:00:00 +0700 Penyalahgunaan Kuasa Imamat Dalam Kasus Sexual Abuse http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/412 <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This study focuses on the actions of the priesthood by priests related to the prevalence of sexual abuse cases among the clergy. The disgraceful acts committed by the priests have become a disgrace that the Church has to endure to this day. The church as a continuation of Christ's mission in the world feels the need to reorganize and reorganize by taking a firm stance in resolving the current struggle. To maintain her holiness, the Church first takes a stance of refusing and will not allow the clergy to continue to create sin in her body. Through its leaders, the Church continues to seek to voice that priests should take the path of repentance and return to the essence of priestly life which has united it with the priesthood of Christ. In addition, the Church lovingly welcomes and accepts those who have been victims of sexual abuse by priests. The Church hopes that they will continue to love the Church and believe that the Church is a home that protects and protects them from all crimes and inhumane treatment. As a form of feeling, the Church will continue to stand for justice and respect the rights and dignity of life for victims of sexual harassment, providing assistance, assistance, and healing service to rediscover the meaning of life that is valuable and worthy.</p> <p><strong>Keywords</strong>: priesthood power, sexual harassment, ministerial priesthood, pastoral.</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Studi ini menaruh perhatian pada tindakan penyalahgunaan kuasa imamat yang dilakukan oleh para imam terkait dengan merebaknya kasus sexual abuse dikalangan kaum klerus. Tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh para imam telah menjadi aib yang harus ditanggung oleh Gereja hingga saat ini.&nbsp; Gereja sebagai kelanjutan dari misi Kristus di tengah dunia merasa perlu untuk membenah dan menata dirinya kembali dengan mengambil suatu sikap tegas dalam menyelesaikan pergulatan yang tengah terjadi. Demi menjaga kekudusannya, Gereja pertama-tama mengambil suatu sikap untuk menolak dan tidak akan pernah membiarkan kaum klerus terus menerus menciptakan dosa di dalam tubuhnya. Melalui para pemimpinnya Gereja terus berupaya menyuarakan agar para&nbsp; imam mengambil jalan tobat dan kembali kepada hakikat hidup imamat yang telah mempersatukannya dengan imamat Kristus. Di samping itu Gereja dengan penuh cinta menyambut dan menerima&nbsp; mereka yang telah menjadi korban <em>sexual abuse</em> yang dilakukan oleh para imam. Gereja berharap mereka tetap mencintai Gereja dan percaya bahwa Gereja menjadi rumah yang akan menjaga dan melindungi mereka dari segala kejahatan dan perlakuan yang tidak berprikemanusiaan. Sebagai bentuk rasa tanggungjawabnya, Gereja akan terus berdiri di atas keadilan dan menghormati hak serta martabat hidup para korban <em>sexual abuse,</em> memberikan pendampingan, pertolongan serta tindakan penyembuhan sehingga menemukan kembali makna hidup yang berharga dan bernilai.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>&nbsp;Kata kunci: </strong>kuasa imamat, <em>sexual abuse</em>, imamat ministerial, pastoral.</p> Martinus Renda, Ronalius Bilung, Yoseph Kabalesy, Johanes Hegemur, Edison R. L. Tinambunan ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/412 Sat, 23 Apr 2022 00:00:00 +0700 Tindak Pidana Apostasia (Murtad) Studi Kanonik http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/408 <p><em>Apostasia,</em>&nbsp;in the penal canon law, is one of the most serious offences. There are at least two fundamental reasons for this; first,&nbsp;<em>apostasia</em>&nbsp;is a direct attack on Christian faith, a fundamental aspect of spiritual life, and secondly, from a juridical perspective, the prescribed canonical sanction is one of the very limited penalties imposed by the&nbsp;<em>codex</em>, namely excommunication&nbsp;<em>latae sententiae</em>&nbsp;(cf. can. 1318). The apostasy is a sensitive and actual topic and therefore needs to be understood properly in order to gain a more comprehensive&nbsp; understanding of it. The concern about the cases of apostasy within the Catholic Church make us learn more about how and when someone really leaves the Catholic faith totally. At the same time, we are invited to understand the various juridical consequences established by canon law for this offence. The ultimate goal of this study is to make a conceptual contribution to the act of <em>apostasia</em>&nbsp;through canonical analysis and to explain how the punishment of excommunication is abolished. The Church through its juridical system judges and at other times also facilitates how the concrete conversions are realized.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Keywords</strong>: <em>Apostasia, </em>penal canon law, <em>censura, </em>excommunication, the remission of canonical penalties</p> Daniel Ortega Galed ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.stftws.ac.id/index.php/spet/article/view/408 Sat, 23 Apr 2022 00:00:00 +0700