Forum https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum filsafat, teologi en-US fxarmadacm@gmail.com (Prof. Dr. FX. Eko Armada Riyanto) imildanonic@gmail.com (Imilda Retno Arum Sari) Fri, 04 Jun 2021 08:45:07 +0700 OJS 3.1.0.1 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Konsep Kebebasan Menurut Jean-Jacques Rousseau dan Relevansinya Bagi Demokrasi Indonesia Saat Ini (Sebuah Kajian Filosofis - Kritis) https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/364 <p>The focus of this paper is a discussion of the concept of freedom according to Jean-Jacques Rousseau, one of the philosophers of the Enlightenment. Rousseau's concept of freedom is always interesting to discuss in the context of a country that applies democracy as its political system, one of which is Indonesia. In discussing the concept of Rousseau's freedom, it is relevant to Indonesia's current democracy, which is in a state of flawed democracy according to the research results of The Economist Intelligence Unit in 2020. The goal to be achieved is to find new ideas as a solution to improve the quality of Indonesian democracy for the better. The method used in this paper is a qualitative method in the form of literature review. The findings in this paper is that the quality of freedom in Indonesian democracy is still very low, especially in the fields of religion and education. The task to fight for this freedom is first of all in the hands of the leaders of the nation and state.</p> Romanus Piter, Valentinus . ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/364 Fri, 04 Jun 2021 08:52:36 +0700 Empati yang Rasional dan Relasional https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/325 <p>Dalam artikel ini saya ingin membandingkan empati dari sudut pandang fenomenologi dan Immanuel Kant. Artikel ini menawarkan cara pandang secara filosofis-etis. Fenomenologi menekankan pengalaman sebagai dasar untuk berempati. Sementara itu, Kant lebih menitikberatkan pada aspek rasio. Bogdan dan Taylor, sebagaimana dikatakan oleh Armada,&nbsp; mencetuskan gagasan <em>one of them</em>. Konsep <em>one of them </em>ini juga terkait dengan terminologi <em>sorge</em> dari Heidegger yang dijelaskan secara mendalam oleh Schutz sebagai kesadaran di sini-sekarang-kemudian (<em>here-now-then</em>). <em>One of them </em>dan <em>sorge </em>mendapat kepenuhannya dalam pengalaman. Namun di sisi lain Kant menolak pengalaman sebagai dasar etika. Pengalaman seringkali menampakkan partikularitasnya sehingga etika menjadi relatif dan bias. Dari pro-kontra dua pandangan ini timbul pertanyaan, apakah mungkin empati itu bertolak dari pengalaman dan terjadi secara rasional? Pertalian antara pengalaman dan rasio nantinya akan terlihat dalam pemaknaan yang mendalam atas relasi.</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>In this article I will compare the value of empathy from the phenomenology’s and Immanuel Kant’s point of views. Phenomenology emphasizes empirical aspect as empathy basis. Whilst Kant counts heavily on rational aspect. Armada, citing Bogdan an Taylor, triggers a concept ‘one of them’. The concept relates to sorge described by Heidegger and elaborated by Schutz as a conciousness and cognition of here-now-then.&nbsp; The concepts of one of them and sorge have their completeness in empirical experience. In other hand, Kant rejects empirical experience as ethical base. Experiences are often observed in their particularity, hence ethics will be biased and relative. The disagreement between Kant and phenomenology arises a very question, is empirical and rational empathy posible? The interwoven connection of them is in deep import of relation.</em></p> Adrianus Yoga Pranata ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/325 Fri, 04 Jun 2021 00:00:00 +0700 Orang Jawa Menjaga Keharmonisan (Tinjauan Filsafat Moral Kant dalam Upacara Tradisional Nyadran) https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/322 <p><strong>Abstrak:</strong></p> <p>Fokus studi saya dalam artikel ini adalah menggali makna ritual, bahasa, dan simbol-simbol pada upacara tradisional <em>nyadran</em>. Studi ini saya tinjau dari filsafat moral Immanuel Kant. Metode penelitian dalam artikel ini adalah studi kepustakaan tentang <em>nyadran</em>, kebudayaan Jawa, filsafat Jawa, dan filsafat moral Kant. Dari studi ini saya menemukan bahwa <em>nyadran</em> merupakan ungkapan dan cara orang Jawa menjaga keharmonisan, baik dengan dirinya sendiri, alam semesta, dan Tuhan. Keharmonisan dengan diri sendiri berakar pada <em>rasa </em>(sikap batin), yang mana dalam filsafat moral Kant disebut moralitas otonom. Nilai-nilai kebersamaan dalam <em>nyadran</em> adalah perwujudan menjaga keharmonisan dengan alam semesta, sebab nilai-nilai tersebut menjadi media perekat sosial bagi para warga demi kebaikan bersama. Hal ini seperti yang diuraikan Kant dalam gagasannya tentang moralitas, di mana nilai-nilai moral manusia mengarahkan pada kebaikan bersama. Bagi Kant, Tuhan adalah Kebaikan tertinggi. Dalam <em>Nyadran, </em>cara orang Jawa menjaga keharmonisan dengan Sang Kebaikan Tertinggi nampak dari berbagai atribut dan doa-doa yang dipanjatkan, serta dilanjutkan dalam kebaikan sehari-hari.</p> <p>&nbsp;</p> Felix Brilyandio ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/322 Fri, 04 Jun 2021 08:56:44 +0700 Reksa Pastoral Tentang Martabat Perkawinan Kristiani Terhadap Kaum Muda Menurut KHK Kanon 1063,1O https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/320 <p><strong>KHK Kanon 1063, 1°</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>Karya tulis ini memusatkan perhatian studi pada reksa pastoral tentang martabat perkawinan kristiani bagi kaum muda. Hal ini bermula dari kepedulian Gereja pada orang muda yang perlu mendapatkan bimbingan dan arahan terutama soal pilihan hidup menikah. Hidup perkawinan adalah hal penting dalam pasangan suami istri. Pertama-tama perkawinan adalah rahmat panggilan dari Tuhan. Dari sebab itu, karya ini akan melihat kemendesakan reksa pastoral tentang perkawinan dan aneka peluang yang bisa dijadikan sarana untuk memberikan katekese bagi kaum muda. Berdasarkan studi ini, saya melihat bahwa organisasi OMK dan sekolah-sekolah Katolik memiliki peran besar untuk memberikan katekese yang komprehensif bagi kaum muda untuk dapat memahami perkawinan kristiani dengan benar lewat kurikulum atau pun kegiatan-kegiatan kerohanian lainnya.</p> Freddi Simarmata ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/320 Fri, 04 Jun 2021 08:58:47 +0700 Kualifikasi Penguasa Ideal Telaah Filsafat Politik Machievelli Terhadap Tokoh Frank Underwood dalam Serial TV House of Cards https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/323 <p>Salah satu serial TV populer di dunia adalah House of Cards. Serial TV bertemakan politik Amerika Serikat ini menarik perhatian banyak pihak karena memperlihatkan secara representatif dan transparan bagaimana politik AS yang sebenarnya terjadi. Melalui tokoh fiksi utama Frank Underwood, pemirsa menyadari bahwa politik bukan suatu yang dapat ditanggapi secara polos sebagaimana tampil dalam layar kaca. Frank Underwood sendiri memiliki persona seorang politisi yang pragmatis, licik, berani, seorang negosiator, orator dan diplomat ulung, tetapi juga sekaligus tak ragu bertindak kejam dan bengis untuk menumpas lawan politik demi mencapai tujuan dan ambisi kekuasaanya. Karakter Underwood ini sejalan dengan pemikiran filsuf dan diplomat besar Florence dan Italia, Niccolo Machiavelli. Dalam tulisan ini, penulis hendak meninjau dan menelaah filsafat politik Machiavelli dalam karya besar <em>Il Principe </em>(Sang Penguasa) terhadap tokoh fiksi serial TV ini, Frank Underwood. Metodologi yang penulis gunakan adalah studi literatur atas karya Machiavelli dan observasi mendalam atas serial TV House of Cards. Penulis menemukan adanya kesejajaran pandangan politik Machiavelli dan praksis politik yang dijalankan Underwood dalam kongres dan pemerintahan Amerika Serikat.</p> Innoccentius Gerardo Mayolla ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/323 Fri, 04 Jun 2021 09:00:54 +0700 Terang Iman dan Kebenaran Di Era Revolusi Industri 4.0 https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/317 <p>Fokus dari tulisan ini ialah menyadarkan manusia di era revolusi industri 4.0 akan adanya kebenaran-kebenaran semu dengan terang-terang palsunya yang menjerat manusia agar berpaling dari Sang Kebenaran sejati. Lewat algoritma, oleh para pemilik kepentingan, kosep manusia diubah dan hanya dipersoalkan soal mahluk badaniah belaka. Lewat kebenaran-kebenaran semu, manusia dijadikan alat pengupdate data yang tentu menguntungkan para pemilik kepentingan. Metode dari penelitian paper ini ialah studi kepustakaan, dimana penulis megkaji dari berbagai sumber buku untuk membhas topik. Dari analisis paper ini, manusia di era revolusi industri 4.0 disadarkan untuk mencari Sang Kebenaran sejati lewat tuntunan Terang yang dipancarkan Sang Kebenaran sejati itu yakni Terang Iman. Sebuah Terang yang tidak akan meredup dan bercahaya lebih kuat dibading terang-terang semu.</p> Kanisius Catur Christian, Kevin Hendrarto Tandautama ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/317 Fri, 04 Jun 2021 09:04:08 +0700 Politik Demokrasi: Membangun Solidaritas dan Sinergi Di Tengah Pendemi Covid-19 https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/281 <p><em>My focus in this paper is on the politics of democracy and how to build solidarity and synergy in the midst of the Covid-19 pandemic. Because it is a political task to handle any difficult situation, including this pandemic. The methodology of this paper begins with a little understanding of the outbreak of a virus which is the great enemy of mankind with its deadly historicity in the history of human civilization. In the next part, the author enters the realm of our politics during this pandemic. Politics that emphasizes the people, of course, begins with a rational discourse and is able to understand the social context. This difficult situation also invites people to have the same feeling, namely the sense of crisis. This feeling invites people to build and encourage each other. From this methodology, I propose two important ideas, namely first to always pay attention to civil society to its fullest and second, our government must build synergy and internal government coordination that runs well.</em></p> Stepanus Angga ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/281 Fri, 04 Jun 2021 09:08:02 +0700 Studi Deskriptif Konflik dalam Komunitas Religius yang Berwajah Multikultural Ditinjau dari Aksiologi Max Scheler https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/290 <p><strong>Abstrak: </strong></p> <p>Kesadaran akan nilai persatuan di zaman ini sudah mulai pudar. Sekelompok orang sering menjadikan perbedaan, sebagai motif untuk memecah belah persatuan. Sehingga tidak jarang, banyak terjadi konflik diantar budaya yang tak kunjung usai. Perbedaan budaya menjadi penyebab konflik yang terjadi di antara masyarakat Indonesia salah satunya komunitas Frater. Maka dalam tulisan ini penulis mau mendalami nilai egaliter sebagai alat pemersatu di dalam komunitas Frater yang terkadang mengalami konflik. Konflik yang terjadi karena adanya pandangan yang berbeda mengenai nilai atau kebiasaan diantara budaya di dalam komunitas tersebut. &nbsp;Dalam hirarki nilai Max Scheler ada nilai spiritual yang dapat menjadi landasan yang baik untuk menjadikan komunitas frater yang memiliki nilai kasih persaudaraan, sebab dalam nilai egaliter terkandung penghargaan terhadap martabat dan kedudukan manusia yang sederajat dengan manusia lainnya. Maka nilai egaliter sangatlah dibutuhkan untuk membangun komunitas religius yang ideal sesuai dengan nilai kesatuan, sehingga komunitas frater dapat tumbuh dalam multikultural yang membangun kebersamaan, tanpa menumbuhkan konflik.</p> Steviano Alyanro Baylon ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.stftws.ac.id/index.php/forum/article/view/290 Fri, 04 Jun 2021 09:11:13 +0700